”Kasih sayang anak sepanjang galah, kasih sayang orang tua sepanjang jalan.”
Pepatah ini selalu diucapkan oleh papaku untuk meledekku jika aku tak mau disuruh mengerjakan apa yang mamaku perintahkan.
Sampai saat masa tua merekapun ternyata aku sebagai anak belum bisa memberikan apa yang mereka butuh dan inginkan. Satu-satunya cita-cita mereka adalah melihat anak-anaknya sukses. Mengingat anak mereka cuma dua, aku dan adik lelakiku, mereka sangat menginginkankan kami menempuh pendidikan kami sampai tingkat tertinggi.
”Ya, kalau mbak paling nggak sampai S2 ya mbak..” kata papaku.
”Kalau adik, harus lebih tinggi dari mbak, terus lagi harus dapat pekerjaan yang mapan, karena nanti adik pasti akan nikah dan menghidupi keluarganya sendiri” kata mamaku.
Papa berkata lagi, ”kalian tidak perlu memikirkan orang tua, papa mama cukup senang melihat keberhasilan kalian dalam pendidikan. Papa mama begini saja sudah cukup. Nanti kalau sudah tua, paling rumah jadi sepi, jadi kegiatan kita cuma berkunjung ke rumah kalian berdua”
Begitu nasihat terakhir papa mama sebelum akhirnya kami, aku dan adikku, mulai berjuang untuk impian kedua orang tua kami. Meninggalkan kampung halaman dan berpisah dengan mereka. Itulah semangat yang selama ini membuat kami berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa lain, yang puas belajar dikampus hanya dengan kata ”cukup”.
Awalnya memang idealisme-ku tinggi. Kenapa adik harus lebih tinggi pendidikannya? Terus, kenapa pendidikanku harus ditentukan?
Tetapi akhirnya aku memahami beberapa alasan logis mereka yang tidak pernah mereka sampaikan dengan kata-kata. Ternyata penghargaan masyarakat itu berdasarkan derajat dan tingkat pendidikannya. Karenanya aku dan adikku harus berjuang untuk sebuah ”nilai”.
Lama sekali aku tidak mengunjungi mereka, rasanya rindu.
Padahal setiap pagi, mama papa bergantian menelponku. Mungkin itu juga mereka lakukan pada adikku. Aku tidak tahu karena memang kita tidak berada pada satu kota.
Semakin rindu hati ini jika mengingat kata-kata kasarku yang sering keluar kepada mereka. ”lagi sibuk nih”, ”iyaaaahh!!”. kadang sempat menutup telpon tanpa salam ketika aku sedang buru-buru untuk meeting. Suamikupun sering mengingatkan untuk jangan terlalu keras dengan mereka. Mereka hanya butuh perhatian dan kasih sayang anak-anaknya
Ya Allah…ampuni aku…
Ma, Pa, maafkan anakmu yang durhaka ini..
Ingin sekali langsung meminta maaf sehabis berkata kasar kepada mereka sebelum aku terlambat. Tapi mama papa selalu mendahuluiku. Mereka menelpon dan menanyakan kabar seperti sebelumnya aku tidak pernah menyakiti hati mereka.
Ma, Pa, aku rindu sekali pada kalian
Setiap mengingat wajah kalian, doaku selalu tercurah untuk kalian.
Kalian selalu ada…
Rabbigh firli waliwalidayya war hamhuma kamaa rabbayaa ni soghiraa..
Ampunilah dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku bila sebagaimana mereka mengasihi aku sewaktu kecil..Amin…
