Finally, dialah lelaki yang menikahiku. Tjiiahh..
aku juaranyaaaaa…!!!!heheheee…

Sekolah di SMPN 1 pada sebuah kota yang menurutku sangat menyebalkan, penuh dengan pemikiran kuno dan hal-hal menyebalkan lainnya. Kita berada di sekolah yang sama tetapi tidak mengetahui satu sama lain. Sampai tersebarnya berita bahwa banyak sekali perempuan memperbincangkan tentangnya, SANDY. Dalam hati, apa sih istimewanya, yang mana si anaknya, segitunya ya??. Tapi penasaran itu akhirnya hilang dengan sendirinya, karena SMP adalah waktu ketika aku benar-benar menjadi seorang yang taat pada orang tua dan guru, pekerjaanku adalah belajar dengan giat (weleh), ekstrakulikuler, les dan les. Beruntung komunitasku adalah anak-anak perempuan yang cukup “beradab” nilainya di sekolah, jadi aku bisa belajar dengan mereka tanpa ikut-ikutan isu-isu tentang Sandy. Novi (teman sebangkuku), Dian Widya, Lusya, dan Citra adalah teman-temanku waktu SMP dulu yang sekarang ini mereka sudah menuai hasil dari kejeniusan mereka. Ada yang jadi bidan, jaksa, pegawai bank, wuihh, keren-keren pokoknya.

Kembali ke Sandy.
Tiba kenaikan jenjang pendidikan. Menjadi siswa SMA. SMUN 2, masih di kota yang sama, tempat dimana aku menyelesaikan pendidikan tingkat atas selama 3 th sebelum akhirnya aku pindah ke Bogor untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Ya, 3 tahun. Selama 3 tahun itu pula aku satu sekolah lagi dengan seorang siswa bernama Sandy, bahkan sempat satu kelas ketika kelas 2 SMA. Dia duduk dibangku belakangku. Tapi tak ada 1 penilaianpun terhadapnya, artinya sama sekali tak ada atensi dariku untuknya. Entahlah.
Karirnya semakin meroket ketika dia terpilih menjadi ketua OSIS, membuat para Sandy fans club semakin banyak. Mungkin baginya dan bagi yang lain, SMA adalah masa-masa paling indah, tapi tidak untukku. Justru memori ini yang paling ingin aku delete dari otakku . Siapa tahu bisa meng-upgrade kemampuan otakku untuk mengingat hal-hal yang lebih bermanfaat lainnya. Kejengahan dengan teman-teman perempuan yang hobby , menuduh sekaligus men-judgeku merebut teman dekat (lelaki) mereka, dan disisi lain banyak lelaki merasa aku adalah orang yang tidak baik karena menolak tawaran “cinta” mereka. Ya begitulah kira-kira, tapi sudahlah . Mungkin juga orang yang bernama Sandy ini sempat mendengar beberapa gosip tentangku. Karena salah satu temannya ada yang juga mendekatiku dan tertolak. ^_^

BOGOR adalah kota yang paling ingin aku tuju setelah menyelesaikan SMA-ku. Dingin dan tenang, pastinya jauh dari “kamera-kamera” itu. Dengan hidup baru dan teman-teman baru, aku berharap gangguan-gangguan dari masa lalu tidak akan muncul lagi. Walaupun sesekali ingin tahu kabar beberapa dari perempuan-perempuan itu. Sengaja losing contact gitu deh..
Sampai semester akhir (semester 7) aku mulai mengajar pada sebuah bimbel (bimbingan belajar) dan menjadi guru bahasa Inggris karena memang Sastra Inggris adalah jurusanku. Tujuanku mengajar adalah melatih spoken aku untuk sidang spoken nanti. Dan tiba-tiba……
“ bip bip bip bip” …………. ponselku bunyi. Karena sibuk membuat laporan bulanan, aku baru sempat membuka sms tadi malam hari. Uppzz..SANDY!!!?? Sandy yang mengirim sms tersebut?? Orang yang sering menjadi perbincangan para perempuan itu?? Orang yang menjadi idola teman-teman juga adik kelas waktu SMP dan SMA dulu?? Aku merasa aku bukanlah orang yang kenal dengannya. Lantas apa maksud dia mengirimi “Assalamualaikum..apa kbr bos?”. Ternyata satu reply dari smsku membawa keberlanjutan kedekatan kami, sampai akhirnya aku lulus dan diterima pada sebuah perusahaan di Bekasi. Satu kebetulan lagi, bahwa ternyata Sandy juga bekerja pada satu kawasan yang sama dengan tempatku bekerja. Tapi tidak, jangan berpikir kita bisa sering bertemu dengan kedekatan jarak itu. Justru intensitas sms, chatting dan telepon semakin berkurang ketika kita berada pada radius lebih dekat, dibandingkan dengan Bogor-Bekasi pada waktu aku masih semester akhir di bangku kuliah beberapa bulan kemarin. Tiga bulan sudah aku di Bekasi, kota yang panas . Sandy resign dari tempat dia bekerja. Dia memutuskan untuk melanjutkan S1-nya di Surabaya. Itupun setelah perdebatan denganku. Kenapa mesti Surabaya kalau hanya untuk melanjutkan S1. Tapi seperti biasa, dia punya sejuta alasan untuk mempertahankan argumentasinya, untuk pergi dari Bekasi dan melanjutkan di Surabaya, untuk jauh dari Bogor (heheee..naif).
Tiba-tiba aku merasa sedih dan kehilangan . Seperti kehilangan sesuatu yang sudah lama jadi milik aku. Hahaa..lebay. Padahal aku juga bukan teman yang bisa dikatakan dekat dengannya. Sempat juga aku mendengar beberapa teman-teman perempuan yang menurut gossip sedang dekat dengannya bahkan berencana ke jenjang pernikahan dengannya, ada yang di Bekasi, ada yang di Surabaya, ada yang di Malang. Wuiihh…lelaki!!! Kayaknya pesonanya sudah keliling kota. Harus segera “diselamatkan” lelaki seperti itu!! Tapi begitulah, seperti apapun, perasaanku memang berubah menjadi aneh. Kehilangan. Walaupun dia bukan siapa-siapa. Dan aku tidak pernah memberitahunya tentang rasa saat keputusannya itu, untuk pergi. Since no other choices and ways for me. Sehari sebelum kepergiannya, 01 November 2008, dia menunjukkan suatu tempat. Awalnya aku tidak tahu kemana kita akan pergi. Ternyata aku ditunjukkan tempat yang indaaaaah banget (tempatnya yang indah atau apanya ya..). Le Bridge, Ancol. Dari naik kereta, busway, jalan kaki di sepanjang jalan di Ancol, dan taxi ketika kita pulang. Senang,, walaupun cape sangat setelah melewati pagi siang dan malam dengan berjalan kaki. Tapi perasaan sedihnya ikut menelusup (emang ga sopan tu sedih). Aku ingat bahwa besok adalah hari terakhirnya di Bekasi. Artinya close pula cerita-ceritaku selama beberapa bulan terakhir ini tentangnya. Hiks…hiks….

No, I can’t forget this evening
Or your face as you were leaving
But I guess that just the way the story goes
You’ll always smile, but in your eyes your sorrow shows, yes it shows

I can’t live, if living is without you
I can’t live, I can’t give anymore… ===>
nyanyi ni

Sediiiiiiiiiiiiihhhhhhhh………………!!!!!!!!!!!

Loh kok???
Maret 2009, sekitar 4 bulan setelah dia meninggalkan Bekasi, akibat dari perpisahan waktu itu, intensitas komunikasi kita meningkat tajam, tapi ada yang aneh. Pembicaraan dalam chatting kita mulai mengarah pada pembicaraan yang lebih serius, karena sebelum-sebelumnya percakapan baik chatting, telepon, ataupun sms, kita sering menjadi seperti dua kubu yang berlawanan, seperti dua kutub yang tidak pernah bertemu. Ibarat kuis, kita selalu berusaha saling menjatuhkan argumentasi masing-masing untuk mendapatkan poin kemenangan. Saat itu, dia menanyakan kembali tentang pernikahan menurut konsepku, padahal sebelumnya hal ini sudah pernah kita perdebatkan dan tidak ada titik SEPAKAT. Entah dari mana sampai ke mana pembicaraannya, tiba-tiba…….“menjadi Ny. Sandy pasti enak, ada fasilitas plus-plusnya, disayangi seumur hidup sampe , dijadikan bidadari di surga, di-imami untuk menuju surga, dll. SUBHANALLOH. Aku jatuh cinta..!!!  Aku jatuh cinta padanya. Aku jatuh cinta pada Sandy. Orang yang aku bilang paling egois (dulu). Orang yang dikagumi banyak orang. Dari dulu aku paling tidak suka kalau menyukai hal yang sama dengan orang lain, apalagi “hal” itu disukai banyak orang. Aku selalu ingin beda. Ampun ya Rabb. Tapi perasaan kok jadi berbunga-bunga gini ya  . Walaupun kadang-kadang masih diselipin ragu-ragu dengan kejadian-kejadian sebelum pernikahan kami. Benar-benar seperti orang yang aneh. Apa ini???? Perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Berbeda ketika aku masih SMA, ketika aku mulai menyukai seorang kakak seniorku. Berbeda sekali, sungguh berbeda.
Sandyyyyy!!! Apa yang sudah kamu lakukan!!!??? kamu meruntuhkan angkuhnya pintuku.
May 2009, dia pun mengkhitbahku. Dan 12 Desember 2009 dia menikahiku . Dia resmi menjadi suamiku. SUBHANALLOH..!! perjalanan yang cukup singkat dan Alhamdulillah lancar.
Kisah yang serba kebetulan. Ya, selalu kebetulan. Tapi adakah kebetulan yang tanpa perencanaan-Nya?? Kami akan terus bermuhasabah..

Suamiku, terimakasih telah menjadikanku perempuan yang paling beruntung dengan menjadikanku sebagai istrimu. Terimakasih telah memuliakanku dengan cinta dan kasih sayangmu meskipun aku adalah istri yang penuh dengan kekurangan. Terimakasih telah membimbingku sebagai satu-satunya makmum-mu untuk menjadi bidadarimu nanti di surga. Terimakasih telah mau menerima, menemani dan menjagaku.
Ya Rabbul Izzati, sujud syukurku kepada Mu ya Rabb. Subhanallahi wal hamdulillah wala ilaa ha illallahu Allahu Akbar. Engkau telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menggenapkan setengah agama ini bersama dengan orang yang kami sayangi, bersama dengan orang yang memberikan keteduhan dan perasaan cinta Mu kepada kami. Sakinah Mawaddah waRahmah.

Adalah engkau dia yang kurindu
Tuk menjadi bunga dihatiku
Menjadi peneduh kalbu diperjalananku
Tibalah waktu yang lelah kurindu
tuk selalu bersama denganmu
Telah terbuka pintu itu, akad tlah terucap sudah
Abi marilah melangkah…
Abi temanilah aku disetiap detikku dengan doa mu
Bila terpisahkan waktu tetaplah disini, di dalam hatiku
Ya Rabbi, izinkanlah kami
Untuk terjaga selalu dijalan-Mu
Abi doamu laksana pelepas dahaga dilelahnya jiwa
Adalah engkau, dia yang kurindu
Tuk selalu hadir di hidupku
Mengiringi setiap langkah saat menujuku
Acuan hidup ini

Bogor-Bekasi, 070510
Early_’s waiting for d SUN

Advertisement