Hampir sebulan yang lalu fluktuasi emosi Issya semakin “menggila”..

Ilmu tentang sabar dan ikhlas pun sepertinya terkikis oleh detik-detik menjelang pernikahannnya..Loh..?? aneh..

Ya,,Issya bercerita pada seorang sahabat dekat tentang “keparahan” emosinya akhir-akhir ini, dan sahabat itupun berkomentar “tenang aja..itu cuma syndrome pre-marriage kok, jangan banyak mikir aja”. Issya mencoba mengerti syndrome yang sahabatnya jadikan sebagai hal biasa tersebut.

Suatu saat…

“ya, itu memang sudah menjadi bagian dari watakmu! Kamu ga akan pernah berubah!”, kata seseorang diseberang sana, yang terdengar melalui microphone seluler Issya.”

“baiklah, karena waktu kita masih 2 minggu lagi, masih ada kesempatan yang bisa kita ambil! Urungkan saja niat untuk menikahiku! Aku juga tidak ingin menikah dengan orang sebaik kamu!” jawab Issya meninggi.

KLEKK…..tuuuuutttttttt………………………………

Pembicaraan pun terputus…..

Permasalahan seperti kata-kata sepele yang menyinggung hati, telat menepati janji atau rencana-rencana yang telah tersusun rapi namun tidak sesuai dengan harapan, ditambah lagi beberapa teman lama dari si “calon” yang terkesan lebih mendekat, ini merupakan beberapa penyebab/pemicu timbulnya yang disebut oleh orang-orang dengan “syndrome”.

Tapi apakah betul ini murni sebuah syndrome saja? Atau karena memang betul karena satu kondisi yang menyebabkan watak resesif seseorang muncul..???

Advertisement